Kamis, 09 Juni 2011

putri 1000 dolok: **** pada saat kuliah ****

putri 1000 dolok: **** pada saat kuliah ****

**** pada saat kuliah ****

Lelaki berjuluk profesor itu bertanya pada mahasiswa nya, “Apakah semua yang ada adalah ciptaan Tuhan?” Seorang mahasiswa yang duduk paling belakang spontan menjawab, “Ya, Profesor, Tuhan memang menciptakan semuanya. Saya rasa kita semua tidak meragukan hal itu.” “ Itu benar,. Keterangan tentang itu banyak terdapat di kitab-kitab suci,” sahut mahasiswa lainnya.

Sang Profesor hanya mengangguk. Sesaat beliau tampak setuju dengan jawaban mahasiswanya. Namun tiba-tiba beliau bertanya lagi, “ Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan Kejahatan. Sebab kejahatan itu bukan sekedar khayalan, tapi benar-benar real. Kalian bisa melihatnya disurat-surat kabar kriminal. Nah, jika kejahatan itu ada dan setiap yang ada pasti ada penciptanya, maka Tuhan lah yang menciptakan kejahatan. Kalian yang bilang sendiri tadi bahwa Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan kejahatan.”

Kedua mahasiswa yang tadi menjawab kali ini cuma bengong. Beberapa mahasiswa lain juga kelihatan tercengang. Melihat mahasiswanya “kalah”, profesor itu kemudian tersenyum. Kedua matanya berbinar senang. “Nah, kini jelaslah bahwa agama hanyalah mitos. Bahkan mungkin Tuhan sendiri hanya ada dalam bayangan kalian, bukan diatas langit sana.”

Seorang mahasiswa tiba-tiba mengacungkan tangan dan berkata, “Profesosr , boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja”, jawab si Profesor dengan senang. Mahasiswa itu kemudian berdiri, “Profesor, apakah dingin itu ada?”, ujarnya. “Pertanyaan macam apa itu?tentu saja dingin itu ada. Apa selama ini kamu tinggal di gurun pasir?” sahut Profesor yang kemudian diiringi tawa mahasiswa lainnya. “Kenyataannya, Pak,” jawab mahasiswa tersebut, “dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Suara tawa mendadak hilang. Kelas hening. Sesaat kemudian mahasiswa itu kembali berkata, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Kelas makin hening. Sang Profesor diam-diam meringis. Tiba-tiba mahasiswa itu bertanya lagi, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang, profesor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah ku katakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.” Namun mahasiswa itu lagi-lagi membantahnya, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan kasih sayang Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.” Profesor itu terdiam. Mahasiswa itu kembali duduk. Untuk sesaat ruang kuliah dipenuhi keheningan hingga suara profesor memecahnya.

“Siapa nama mu, Nak?”

“Albert, Sir. Albert Einstein……”

Minggu, 10 April 2011

With my Bro Slideshow

With my Bro Slideshow: "TEST TripAdvisor™ TripWow ★ With my Bro Slideshow ★ to Medan. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"

Rabu, 30 Maret 2011

Live Performance - Nai Malvinas

Minggu, 30 Januari 2011

Cinta abu-abu di SMU Deli Murni….

Menapaki kaki kembali di tempat ini membuat memoriku melambung pada kejadian tahun 1998 ( 13 tahun ) yang lalu.

“sis…..ada yang mau kenalan” kata kak Melda mengejarku saat hendak pulang sekolah ke asrama putri yang kami sebut dengan penjara kudus.

“kiki…..aku tinggal di seminari dekat asrama putri” katanya mengulurkan tangan.

“siska….panggilanku agnes monika” kataku sembil senyum ( rupanya dulu aku lebay juga..he he he).

“boru sinaga ya?” tanyanya…rupanya dia sudah mempelajari biodataku….”mamaku juga sinaga brarti kita pariban dong…” katanya melanjutkan.

“yap..” katanya senyum tipis maklumlah aku memang agak pendiam. (hihihihihi)

Selesai makan siang di asrama saatnya tidur siang….di kamar kami ada 8 orang putri termasuk juga k’Melda…dia pun mulai bercerita dengan setengah suara karna takut menggangu yg lain dia bilang padaku….”kiki adalah anak baru diseminari satu angkatan denganmu, dia kelas 1.2 dan kamu 1.4..seminari itu adalah tempat bagi calon pastor tapi ada banyak juga anak seminari yang setelah tamat SMU akhirnya keluar dari seminari, kiki punya abang kandung dua tahun diatasnya di seminari juga, abangnya popular dikalangan asrama putri dan Rita putri tercantik di asrama putri adalah pacarnya…..kiki juga ganteng lo…hitam manis, bodinya tegap macho, bicaranya sopan dan bulu matanya panjang”……aku terkesima dengan penjelasan kak Melda yg terakhir…”bulu matanya panjang”…wah…kak Melda pemerhati bulu mata juga rupanya.ckckckckckck….





Dua bulan setelah kejadian itu…..saat jadwal kami sekamar kebersihan di ruang belajar asrama kak Natal kakak angkatku memberiku sebuah surat, kuterima dan kuperhatikan amplopnya warna agak pink berpadu dengan warna hijau muda..(mentel juga surat neh..)dan aromanya bo….semerbak mungkin telah disemprot parfum……pada suratnya terdapat nama KIKI dan SISKA di tulis dalam satu bentuk love…dan namaku ada dibawah namanya….napa bukan aku yg diatas ya???....he he he.

Disana ada pantun…

Buat apa buah sawo kalau ada buah nangka

Buat apa beru karo kalau ada boru sinaga…(wkwkwkwkwkwkwkwk)

dan dibawahnya ada tulisan ..mau ga jadi pacarku??......



Tak ada sedikitpun niat untuk menyakitinya dan aku katakan terus terang bahwa aku sudah punya pacar sejak SMP namanya Leo…tapi Leo sekolah di kota lain…sejak kejadian itu dia mulai menjauh kalau kami selisih disekolah, kantin, tangga, perpus atau di asrama….anak seminari bisa jatuh hati dan patah hati juga…

.

Kelas 2 SMU kami bertemu dalam kelas unggulan, kelas untuk murid yang mendapat rangking 7 besar dan dia masih cuex…..akupun penasaran…saat jam MM pak Tarigan tak hadir dan sang bintang kelas Elisa mencatat di depan kelas aku kasi kode ama Andre teman sebangku kiki untuk tukaran tempat duduk….berusaha untuk memperbaiki hubungan walaupun aku tak tau harus ngomong apa…untung gurunya ga ada coba kalau pelajaran Fisika oleh Bu As yg bawakan wah…..sunyi senyap deh kelas dan bisa di BOM kelas kami kalau dia melihat ada siswa yang duduk berpasangan….tapi anehnya sepanjang kami duduk berdua kami hanya terdiam dan tak ada pembicaraan sama sekali..mungkin karna baru kali ini pengalaman kami berdekatan dengan lawan jenis….tapi herannya aku pernah melihat gaya dia yang panik dan terkesan kekanak kanakan saat dia melihat aku pulang bareng dengan Tommy murid sekolah lain yang terkenal playboy……kalau aku seehh biasa aja…ntar Tommy juga akan mengejar cewek lain jadi untuk apa ditanggapi serius….aku tipe setia kok….setia ama Leo…..he he he….



“sis…aku uda menikah sekarang dan punya 2 anak tapi maaf ya…nama anakku yang pertama agak sedikit mirip dengan namamu” katanya lebih ramah ga pendiam lagi mungkin karna sekarang nuansanya uda berbeda dan sekarang dia uda berprofesi sebagai angkatan…”gimana dengan pacar SMPmu dulu yang kaubanggakan sampai kau kuliahpun aku tidak berhasil menggantikan dia??” tanyanya saat kami berkunjung ke SMU Deli Murni kembali…sekolah saat kami memakai seragam putih abu2….tempat yang menjadi saksi bisu kisah kami.



“tahun ini dia akan menikah bro tentunya bukan denganku…sekarang aku sedang menata hatiku dengan seseorang……kau tau aku tidak sama dengan kebanyakan wanita lainnya dan aku tidak akan mudah menentukan pihanku……”kataku seolah berbicara pada diri sendiri.

“siapa….?, pasti aku lebih ganteng” katanya sambil membusungkan dadanya.

“entar kalau uda pasti aku akan mengundangmu dan tidak ada alasan untuk tidak hadir” kataku….

“ya asal bukan nando atau Ero karna mreka turangmu, bukan Arih, Thomas, Viktor,Darma atau Julius karna mreka sudah menikah, Mawan dan Roni playboy, Josafat, Andi, Makmur dan Rio uda punya pacar, Silver calon pastor….Andreas sembiring aja !!” katanya sambil tertawa karna dia tau dari dulu aku takut ama Andre soalnya orangnya seriusan banget……ga ada canda ama dia.

“udalah ki…….yang jelas pasti akan ada seseorang yang mencintaiku dan kucintai juga…dan kalau aku nikah lagi jangan cemburu sampai panic seperti dulu ya” kataku cuek…dan kutau kalau aku mengingatkan tentang itu dia langsung KO…..”trus dulu napa kamu naksirnya ama aku??...karna cantik ya??.ayo ngaku??” kataku meledek.

“siapa bilang kamu cantik….Cuma aku senang aja dengan gayamu yang dingin dan pingin banget naklukinnya dan keinginan itu akhirnya melekat menjadi benih2 cinta dan aku berani bilang aku benar2 tulus dulunya mendoakanmu….tapi itu dulu sis…sekarang aku berjuang untuk memberi yang terbaik untuk keluargaku walau awalnya aku juga tidak terlalu yakin dengan istriku tapi bagiku sekarang saat aku bisa membuat mereka bahagia disitulah cinta yang sebenarnya”….”cewek lain??.. klu Elisa, Mika, Eka mreka kutu buku, Vivi terlalu cantik, Sondang dan Ribka orangnya gokil aku bisa kejebak dengan canda mreka, Seri pendiam, Eva manis tapi ga ada Chemisrty, Bunga ama Kristina tinggi banget seleranya….ya udah pilihan trakhit kamu aja” katanya berceloteh…

Sambil memperhatikannya dari samping aku berbicara dalam hatiku : Ki….aku juga ingin menikmati perjalanan hidupku dengan bersyukur dan berjuang….kadang aku berpikir kenapa Tuhan tidak menciptakan manusia langsung berpasangan sehingga aku tidak lelah dengan hati dan tangisan untuk menemukannya…..aku jadi teringat status dari seorang teman : Tuhan merangkai hidup ini tak seindah yang kita idamkan,tetapi juga tak sepahit yang kita cemaskan.... Ia merajutnya dgn kasih yang bersemikan tangis n senyum. Dgn bijak Dia menuntun kita utk slalu belajar memahami sgala p'jalanan hidup ini……aku hanya bisa berharap dan belajar berserah pada Dia…mungkin ini mengingatkan aku untuk datang dan bersekutu lagi dengan Dia……..dan aku akan meyakini bahwa jika Dia berkenan maka Dia akan meneguhkan hatiku untuk menentukan pilihan tanpa keraguan lagi…………semoga…



diangkat dari sebuah kisah nyata......he he he

Kamis, 09 September 2010

At the end of life.

Pada akhirnya dalam hidup ini kita tidak dinilai dari

berapa banyak gelar yang kita terima,

berapa banyak uang yang kita miliki,

berapa banyak hal besar yang telah kita lakukan.

kita akan dinilai dari "Aku lapar,dan kamu memberiKu makan;

Aku telanjang dan kamu memberiKu pakaian.

Aku tak punya rumah,dan kamu memberiKu tumpangan".

Lapar tidak karena kekurangan roti,tapi lapar akan cinta.

telanjang tidak hanya karena tidak berpaikaian,

tetapi karena tanpa martabat dan kehormatan.

tuna wisma tidak hanya karena tak punya rumah,

tetapi terlunta karena penolakan.

-Mother Teresa

Love is Commitment!!

tulisan dari teman ke teman

Tulisan ini aku dapat dari temanku ... [ Makasih yah Kakak Valent - it's such a blessing for me especially]



Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.



Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.



Dia menciumku maksimal dua kali sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang.



Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.



Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.



Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama delapan tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit. Karena jarang makan dan sering jajan di kantornya dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama Meisha, teman Mario saat dulu kuliah.



Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.



Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. Lima bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.



Aku mulai mengingat-ingat, 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari tiga kali. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang ponselnya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.



Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,



"Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? Uhh... dasar anak nakal, sini piringnya," lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba-tiba saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!



Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.



Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis. Dia bisa hadir tiba-tiba, membawakan donat buat anak-anak, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan-jalan, kadang mengajakku nonton. Kali lain, dia datang bersama suami dan kedua anaknya yang lucu-lucu.



Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu. Karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak di hatinya.



Suatu sore, mendung begitu menyelimuti Jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.



Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, "Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?"



Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,



Dear Meisha,



Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak-anakku.



Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik-konflik terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.



Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon-pohon beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan-hutan belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.



Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki-laki yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.



Yours,



Mario



Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia tujuh tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.



Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.



Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.



Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa-sisa uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam-macam merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.



Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku? Itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.



Mario terus menerus sakit-sakitan, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya. Dengan pura-pura tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.



**********



Setahun kemudian...



Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.



"Mario, suamiku....



Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku.....



Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukaimu.



Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, "Kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? Dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku."



Aku tidak perduli, dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.



Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan."



Istrimu,



Rima



Di surat yang lain,



".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha...... "



Di surat yang ke sekian,



".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.



Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah-marah padamu, aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur di samping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.....



Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya.. ......"



Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu di sampingnya.



Di surat terakhir, pagi ini...



"........... ...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujan deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.



Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.



Tahukah engkau suamiku,



Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda-tanda cinta mulai bersemi di hatimu?"



Jelita menatap Meisha, dan bercerita,



"Siang itu Mama menjemputku dengan motornya. Dari jauh aku melihat keceriaan di wajah Mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya di seberang jalan. Ketika Mama menyeberang jalan, tiba-tiba mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... Aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante..... Aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.... .." Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.



Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya ingin Rima membacanya.



Dear Meisha,



Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah-marah dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda-tanda aku mulai mencintainya?



Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku....



Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk di samping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.





I agree that LOVE IS MORE THAN WORDS, but WE NEED TO SAY IT ALSO!!

sweet ^_*

Cari Blog Ini

Memuat...

Friska mery Sinaga

1000 dolok adalah nama sebuah desa di Kab. Simalungun, ada yang bilang kata itu berasal dari kata 1000 dan dolok, dimana dolok artinya adalah gunung, jadi desa itu adalah desa 1000 gunung, kali mungkin karna disana banyak bukit2 kecil, dan daerahnya berada diatas ketinggian yang lebih dibanding desa sekitar, sehingga hawa di desa itu sangaat dingin, jadi jangan heran klu melihat banyak orang memakai sarung saban hari, sarung bahasa khasnya adalah mandar...., desa kelahiran ku....suasana dinginku tetapi dapat menghangatkan klu ngeliat hasil sayur sayurannya..............